Seperti halnya kegiatan kegiatan sosialisasi sebelumnya, dalam hal kegiatan pengembangan kemitraan media massa kali ini Dinas Kominfo Kota Malang mengangkat peran Blogger/netizen dalam kaitannya ikut membangun Kota Malang. Bertempat di gedung Majapahit Balikota Malang, Sabtu …
Tempat makan yang terletak di Jl. raya TLogomas ini di desain dengan suasana etnik dengan dinding bambu akan memberi nuansa berbeda di dalam jamuan santap Anda bersama keluarga atau pasangan. Tempat duduk lesehan dan meja-kursi …
Perhelatan Festival Batik Ngalam 2019 yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang, tak hanya sekedar pameran batik. Ada hal lain dari tercetusnya event ini, yakni untuk mengusung batik Ngalam batik khas Malang Raya. …
Kelurahan Tlogomas mengirimkan perwakilan grup al banjari Shohibul Bayyan dari RW 03 sebagai peserta festival Al Banjari se kota Malang. Festival yang dipromotori oleh harian Radar Malang ini digelar bersamaan dengan expo haji dan umroh …
Penghargaan Kampung ProKlim Tingkat Nasional disabet Kota Malang. Kali ini, diraih dari kerja keras RW 07 Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru.
Penghargaan bergengsi itu, disampaikan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar kepada Ketua RW 07 Sutrisno Atim di kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Jakarta (2/10). Program Kampung Iklim (ProKlim) sendiri adalah program berlingkup nasional yang dikembangkan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Yang mendukung untuk mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam meningkatkan aksi lokal dengan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim.
Beberapa pertimbangan yang dikeluarkan adalah aksi mitigasi, aksi adaptasi, aksi ketahanan, antisipasi bencana, dan kesehatan), partisipasi masyarakat terhadap pelestarian lingkungan hidup. RW 07 pun memenuhi deretan kriteria tersebut.
Pesona Tlogomas hadir untuk masyarakat Kota Malang menampilkan kebudayaan tradisional Indonesia seperti jaranan, bantengan, musik keroncong hingga ada jajanan tempo dulu.
Seperti kembali kepada masa lalu, itulah konsep yang benar-benar dibawa Karang Taruna Kanjuruhan ketika menggelar acara Pesona Tlogomas pada Sabtu 21 September hingga Minggu 22 September 2019.
beragam kuliner jadul dijual di acara Pesona Tlogomas, mulai dari makanan tradisional seperti clorot, gulali, gatot, tiwul, sengkulun, kluban, buntil, sego jagung, sampai berbagai macam olahan ketela gethuk dan kawan-kawannya.
Ada juga minuman tradisional juga seperti wedang uwuh, wedang jahe, selendang mayang, dawet ayu dan makanan lain yang mulai jarang ditemui di masyarakat modern.
Ketua pelaksana Pesona Tlogomas, Andrean Sukma mengatakan bahwa kegiatan yang diselenggarakan oleh Karang Taruna Tlogomas ini dirasakan pengunjung seperti ada di daerah tempo dulu yang sesungguhnya. “Kami gunakan semua bertema heritage, mulai penataan stand, makanan dan minuman dengan konsep tradisional hingga hiburan,” ujar Andre. “Untuk pengunjung kami menyuguhkan beberapa penampilan tradisional mulai dari Jaranan, Pencak Silat, Bantengan, Tarian Tradisional, Musik Angklung, Perkusi dan Keroncong hingga pameran situs budaya Tlogomas,” ungkapnya.
Lanjut Andre, pengunjung tidak perlu mengeluarkan biaya untuk masuk alias gratis dan mengexplore potensi wilayah Tlogomas dalam hal ini untuk acara Pesona Tlogomas. “Selain itu, harapan kami bisa mengenal potensi Tlogomas melalui kesenian, agar potensi budaya khususnya di Tlogomas bisa dikenal di Kota Malang hingga Indonesia umumnya,” pungkasnya.
Perhelatan Festival Batik Ngalam 2019 yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang, tak hanya sekedar pameran batik. Ada hal lain dari tercetusnya event ini, yakni untuk mengusung batik Ngalam batik khas Malang Raya.
Memang dalam perhelatan yang dilaksanakan di Taman Krida Budaya Jawa Timur (TKBJ) mulai (Senin, 26/8) hingga (Selasa, 27/8) tersebut beragam karya dari 52 pelaku usaha ekonomi kreatif di bidang batik dihadirkan. Mulai dari komunitas kelurahan-kelurahan se-Kota Malang, komunitas batik Malang Raya, bahkan ada sembilan daerah di Jawa Timur juga ikut memamerkan karya batik daerahnya masing-masing.
Tujuannya, tidak hanya sebatas untuk promosi dan pengenalan kepada masyarakat yang lebih meluas. Tapi juga bisa mewujudkan sinergi antara komunitas ekraf yang lain untuk saling menggali potensi hingga memunculkan transaksi untuk peningkatan perekonomiannya. Selain itu, untuk mengetahui khas Batik Ngalam nantinya akan seperti apa.
Sementara itu, salah satu komunitas batik dari Kelurahan Tlogomas menghadirkan koleksi batik dari potensi yang dimiliki wilayahnya, yakni, labu kendi dan gong. Lurah Tlogomas, Andi Aisyah Mukhsin mengatakan batik yang ditampilkan tersebut mengacu pada salah satu yang dimiliki Kelurahan Tlogomas. Di mana, adanya situs Watu Gong di wilayah RW 3 akhirnya dijadikan inspirasi kreasi karya batik. “Kita sudah sejak lima tahun lalu mengenalkan batik Tlogomas, biasanya memang masih dalam bentuk pameran mengenalkannya. Dan ini diambil dari potensi kita sendiri ada labu kendi jadi kendinya mirip buah labu, dan gong karena ada situs watu gong ciri khas kita,” ungkapnya.
Andi berharap keikutsertaannya dalam Festival Batik Ngalam 2019 bisa membuat potensi di wilayah Tlogomas lebih dikenal masyarakat luas, tak hanya Kota Malang tapi juga dari luar kota. “Kami ingin batik hasil karya wilayah Tlogomas lebih dikenal, karena kami punya ciri khas tersendiri. Jadi ada filosofi dari terciptanya motif ini,” pungkas dia.
Kelompok Informasi Masyarakat (KIM)Kelurahan Tlogomas Kota Malang raih penghargaan Anugerah Pewarta Warga (APW) 2019 dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa di Gedung Grahadi, Surabaya, Rabu (31/7/2019).
KIM Tlogomas meraih juara III dengan karya video berita yang berjudul ‘Keju Mozarella Implementasi One Pesantren One Product’. Dengan raihan prestasi ini, menunjukkan Kota Malang semakin siap menjadi Kota Cerdas (Smart City). Di mana Kota Cerdas, berawal dari warga yang cerdas.
Komentar Terakhir